← Back to Reports
Career published

Part 1: Filosofi Karir Software Engineer

by Dery
careersoftware-engineeringphilosophyreflection

Part 1: Filosofi Karir Software Engineer

Refleksi: Apakah Software Engineering Adalah Karir yang Tepat?

Sebelum terjun lebih dalam ke technical skills dan strategi karir, ada satu pertanyaan fundamental yang perlu kita jawab dengan jujur: Mengapa kita memilih software engineering?

Motivasi Finansial Itu Valid

Mari kita akui satu hal - motivasi finansial dalam memilih karir software engineering itu valid dan tidak perlu merasa bersalah karenanya. Industri teknologi memang menawarkan kompensasi yang kompetitif dibanding banyak industri lain.

Namun, yang perlu kita sadari adalah software engineering bukan karir yang statis. Teknologi berevolusi dengan kecepatan yang luar biasa. Apa yang relevan hari ini bisa menjadi obsolete dalam 2-3 tahun ke depan.

Contoh nyata yang saya alami sendiri:

  • Ketika saya mulai fokus di web development, jQuery masih dominan
  • Sekarang ekosistem sudah bergeser ke React, Vue, Angular dan berbagai framework modern
  • AWS services yang saya pelajari tahun lalu sudah ada update signifikan tahun ini
  • Kubernetes dan containerization yang dulu “nice to have” sekarang jadi standard

Pertanyaan Reflektif yang Perlu Dijawab

Ada beberapa pertanyaan yang perlu kita renungkan secara serius:

  1. Apakah motivasi kita cukup kuat untuk bertahan sampai tua?

    • Software engineering menuntut continuous learning
    • Bukan hanya belajar di awal karir, tapi seumur hidup
  2. Setelah mencapai financial freedom, apa selanjutnya?

    • Ketika uang bukan lagi motivator utama, apa yang akan membuat kita tetap bangun pagi dan coding?
  3. Apakah kita siap untuk terus belajar seumur hidup?

    • Ini bukan hiperbola - teknologi berubah sangat cepat
    • Framework yang kita kuasai hari ini mungkin deprecated 5 tahun lagi

Fenomena Engineer Senior Menjadi Petani

Menariknya, ada observasi bahwa banyak engineer senior akhirnya beralih ke profesi yang jauh dari teknologi - menjadi petani, membuka kafe, atau profesi lain yang lebih “grounded”.

Bukan karena mereka gagal, tapi karena jenuh.

Ada analogi yang sangat tepat menggambarkan ini: Code kita adalah makhluk hidup yang perlu dirawat, sama seperti tanaman.

  • Code perlu maintenance terus-menerus
  • Bug muncul seperti hama yang perlu dibasmi
  • Technical debt menumpuk seperti gulma
  • Setiap update dependency bisa merusak yang sudah berjalan

Berbeda dengan tanaman yang tumbuh dengan ritme alam, code menuntut perhatian yang intense dan tidak pernah benar-benar “selesai”.

Refleksi Pribadi Saya

Saat ini motivasi saya adalah kombinasi antara:

  • Finansial - tentu saja, kita perlu income untuk hidup
  • Genuine interest dalam problem-solving - ada kepuasan tersendiri ketika berhasil solve complex problem
  • Variasi tantangan teknis - setiap project membawa challenge berbeda

Sebagai developer yang bekerja dengan berbagai client, saya menikmati variasi ini. Namun, saya terus mengevaluasi apakah passion ini sustainable dalam jangka panjang.


Framework: War Time vs Peace Time Career

Ini adalah framework yang sangat powerful untuk memahami positioning karir di industri teknologi.

Definisi

AspekWar Time CareerPeace Time Career
DefinisiKarir yang tetap essential saat krisisKarir yang optimal saat perusahaan dalam fase growth
Pertanyaan Kunci”Ketika ada issue kritis jam 2 pagi, siapa yang dipanggil?""Siapa yang scaling team dan product?”
Contoh RoleSoftware Engineer, DevOps, SRE, Data EngineerQA, Product Manager, Data Analyst, Data Scientist
KeunggulanLebih tahan terhadap layoffOpportunity lebih besar saat ekonomi bagus
KelemahanOn-call pressure, high stressVulnerable saat cost-cutting

Mengapa Framework Ini Penting?

Di era tech layoff 2023-2024, kita melihat pattern yang jelas:

  • Role yang “nice to have” di-cut duluan
  • Role yang “mission critical” dipertahankan
  • Engineer yang bisa handle production issues tetap dicari

Analisis Posisi Saya

Sebagai Full-Stack Developer dengan expertise di:

  • Cloud infrastructure (AWS, Kubernetes, Docker)
  • Backend systems
  • Troubleshooting dan debugging

Posisi saya termasuk dalam kategori “War Time Career”.

Buktinya:

  • Demand untuk engineer yang bisa handle production issues tetap tinggi selama tech winter
  • Project seperti AWS-based automation systems dengan Step Functions dan Lambda adalah “war time value”
  • Ketika sistem down atau ada security breach, skillset ini menjadi critical

Bagaimana Menentukan Posisi Anda?

Tanyakan pada diri sendiri:

  1. Jika perusahaan harus cut 30% workforce, apakah role saya akan di-cut?
  2. Ketika ada incident jam 2 pagi, apakah saya yang dipanggil?
  3. Apakah pekerjaan saya directly impact revenue atau hanya “supporting”?

Tidak ada jawaban yang benar atau salah - yang penting adalah awareness tentang posisi kita dan strategic planning berdasarkan itu.


Key Takeaways Part 1

  1. Motivasi finansial valid, tapi pastikan ada motivasi lain yang sustainable
  2. Software engineering adalah marathon, bukan sprint - siapkan mental untuk continuous learning
  3. Evaluasi secara jujur apakah ini karir yang ingin dijalani sampai pensiun
  4. Pahami posisi karir dalam framework War Time vs Peace Time
  5. Strategic positioning - pilih skill yang tetap valuable dalam berbagai kondisi ekonomi

Pada Part 2, saya akan membahas strategi praktis untuk mendapatkan pekerjaan - dari membangun resume yang efektif sampai teknik negosiasi.