← Back to Reports
Career published

Part 2: Strategi Praktis Mendapatkan Pekerjaan

by Dery
careerresumelinkedinnegotiationjob-hunting

Part 2: Strategi Praktis Mendapatkan Pekerjaan

Setelah memahami filosofi karir di Part 1, sekarang saatnya membahas strategi praktis untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.


1. Dilema: Should I Become a Manager?

Transisi ke management adalah keputusan yang tidak boleh diambil sembarangan. Banyak engineer yang “terjebak” di posisi management karena alasan yang salah.

Dua Kategori Faktor

Faktor Eksternal:

  • Tawaran posisi management dari perusahaan
  • Ekspektasi kompensasi yang lebih tinggi
  • Pressure dari organisasi (“kamu sudah senior, harusnya jadi manager”)
  • Persepsi bahwa manager = sukses

Faktor Internal:

  • Genuine interest dalam people development
  • Kemampuan komunikasi dan leadership
  • Keinginan untuk impact yang lebih luas
  • Enjoyment dalam coaching dan mentoring

Red Flags - Jangan Jadi Manager Jika…

  1. Motivasi utama adalah gaji - Ada jalur Individual Contributor (IC) dengan kompensasi setara
  2. Tidak suka dealing dengan people issues - Manager spending 70%+ waktu untuk people management
  3. Masih ingin hands-on coding - Manager jarang coding, fokusnya di coordination
  4. Tidak sabar dengan proses - Management penuh dengan meeting dan bureaucracy

Jalur Alternatif: Staff/Principal Engineer

Di banyak perusahaan tech, ada career ladder untuk IC:

  • Senior Engineer
  • Staff Engineer
  • Principal Engineer
  • Distinguished Engineer

Kompensasi di level ini bisa setara atau bahkan melebihi Engineering Manager.

Refleksi Pribadi

Di fase karir saya saat ini, saya lebih memilih jalur Individual Contributor dengan spesialisasi teknis yang mendalam. Saya enjoy knowledge sharing, tapi dalam konteks teknis - bukan people management.


2. Membangun Resume yang Efektif

Resume adalah first impression. Dalam 6-10 detik, recruiter sudah memutuskan apakah akan lanjut membaca atau skip.

Prinsip #1: Be Detail

Jangan tulis:

“Developed web application”

Tulis:

“Architected and developed microservices-based e-commerce platform handling 10K+ daily transactions using NestJS, PostgreSQL, and AWS ECS, reducing response time by 40%”

Perbedaannya:

  • Ada skala (10K+ daily transactions)
  • Ada tech stack (NestJS, PostgreSQL, AWS ECS)
  • Ada impact (reducing response time by 40%)

Prinsip #2: Be Structured

Format yang konsisten dan mudah di-scan:

[Company Name] | [Role] | [Duration]
- Achievement 1 dengan quantified impact
- Achievement 2 dengan quantified impact
- Tech stack: [relevant technologies]

Prinsip #3: Achievements > Responsibilities

Jangan tulis responsibilities:

“Responsible for maintaining backend systems”

Tulis achievements:

“Reduced system downtime from 4 hours/month to 15 minutes/month by implementing automated monitoring and self-healing infrastructure”

Formula untuk Menulis Achievement

[Action Verb] + [What you did] + [Quantified Result]

Contoh:

  • Implemented caching layer yang reduced API latency by 60%
  • Led migration dari monolith ke microservices, enabling 3x faster deployments
  • Automated deployment pipeline, saving 10 hours/week of manual work

3. LinkedIn Profile & Operations

LinkedIn bukan sekadar online resume - ini adalah professional identity dan networking platform.

Profile Fundamentals

1. History Harus Runut Tanpa Gap

  • Jika ada gap, jelaskan (freelancing, study, career break)
  • Gap yang tidak dijelaskan = red flag bagi recruiter

2. Deskripsi Pengalaman Harus Detail

  • Include tech stack yang digunakan
  • Achievements dengan angka
  • Team size dan scope of impact

3. Professional Presentation

  • Foto profesional (bukan selfie atau foto liburan)
  • Headline yang jelas dan searchable
  • Banner yang relevan dengan industri

4. Skills Section

  • Comprehensive - list semua relevant skills
  • Minta endorsement dari kolega
  • Prioritaskan skills yang paling dicari

Tiga Pilar LinkedIn Strategy

A. Networking

Networking bukan hanya saat butuh kerja:

  • Reach out ke hiring managers secara proaktif
  • Connect dengan headhunters dan recruiters di niche kamu
  • Maintain warm relationships - comment di post mereka, congratulate achievements
  • Give before you take - bantu orang lain sebelum minta bantuan

B. Job Application

Strategi untuk maximize chances:

  • Manfaatkan Easy Apply untuk volume
  • Track applications secara sistematis (spreadsheet/Notion)
  • Follow up setelah 1 minggu jika tidak ada response
  • Personalize cover letter untuk role yang benar-benar diinginkan

C. Personal Branding

Content strategy yang efektif:

  • Posting secara konsisten - minimal 2-3x per minggu
  • Content edutainment - educational tapi engaging
  • Be authentic - orang connect dengan genuine personality
  • Share learnings, bukan hanya achievements

Contoh content yang works:

  • Tutorial singkat atau tips
  • Lessons learned dari project
  • Industry insights dan trends
  • Behind-the-scenes dari pekerjaan

4. Evaluating Companies & Negotiating

Framework ‘Earn or Learn’

Setiap opportunity harus memberikan minimal salah satu:

EarnLearn
Kompensasi yang kompetitifSkill development
Good benefitsExposure ke teknologi baru
Stock options/equityMentorship dari senior engineers
Bonus structureChallenging projects

Guideline berdasarkan career stage:

  • Early career: Prioritaskan Learn - skill development lebih valuable untuk long-term
  • Mid-senior career: Balance keduanya - jangan underpaid, tapi tetap growth
  • Senior+: Bisa prioritaskan Earn jika sudah punya strong skill foundation

Formula Value

Cara mengevaluasi opportunity secara objektif:

Value = (Profit Impact × Likeliness) / (Risk × Duration)
  • Profit Impact: Seberapa besar potential benefit?
  • Likeliness: Seberapa likely benefit itu terjadi?
  • Risk: Apa yang kita sacrifice? (time, opportunity cost)
  • Duration: Berapa lama commitment yang diperlukan?

Strategi Negosiasi

1. Be Valuable

  • Demonstrate clear ROI yang bisa kamu deliver
  • Prepare concrete examples dari track record
  • Show enthusiasm yang genuine

2. Be Winnable

  • Convince strategic decision makers (biasanya hiring manager, bukan HR)
  • Create sense of urgency dengan multiple offers
  • Tapi jangan bluffing - bisa backfire

3. Timing Diskusi Angka

  • Jangan reveal expected salary terlalu awal
  • Biarkan mereka commit dulu ke kamu sebagai candidate
  • Ketika ditanya di awal, deflect: “I’m flexible and more interested in the role itself. What’s the budgeted range for this position?”

Red Flags Saat Evaluating Company

  • Proses interview yang chaotic atau tidak jelas
  • Interviewer yang tidak bisa explain tech stack atau culture
  • Glassdoor reviews yang consistently negative
  • High turnover rate
  • Vague answers tentang compensation atau career growth

5. Always Be Interviewing (ABI)

Konsep ini bukan berarti tidak loyal atau selalu actively looking. Ini adalah mindset untuk selalu siap.

Apa yang Dimaksud ABI?

  1. Resume selalu updated - Setiap achievement baru, langsung update
  2. Skills selalu di-maintain - Jangan sampai rusty di fundamental
  3. Network tetap warm - Jangan hanya networking saat butuh
  4. Market awareness - Tahu compensation trends dan demand

Benefits dari ABI Mindset

1. Tahu Market Value yang Sebenarnya

  • Banyak orang underpaid tanpa sadar
  • Interview sesekali memberi benchmark

2. Tidak Desperate Ketika Harus Switch

  • Layoff bisa terjadi kapan saja
  • Siap = tidak panik = negotiation power lebih baik

3. Leverage untuk Internal Negotiation

  • “Saya dapat offer dari X dengan Y% increase”
  • Bukan threatening, tapi data point untuk diskusi

Praktik ABI yang Sehat

  • Interview 1-2x per tahun untuk benchmark
  • Keep LinkedIn active dan responsive to recruiters
  • Attend industry events dan meetups
  • Maintain relationship dengan ex-colleagues

Key Takeaways Part 2

  1. Jadi manager bukan satu-satunya path - IC track bisa sama lucrative
  2. Resume harus detailed dan achievement-focused - Quantify everything
  3. LinkedIn adalah investment - Treat it as your professional brand
  4. Gunakan Earn or Learn framework - Setiap job harus memberikan salah satu
  5. Always Be Interviewing - Bukan disloyal, tapi prepared

Di Part 3, kita akan deep dive ke Behavioral Interview Mastery - skill yang sering underestimated tapi bisa menentukan apakah kita diterima atau tidak.